Berikut draf ulang artikel berita tersebut dengan sudut pandang, susunan, dan gaya bahasa yang berbeda, tetapi tetap mempertahankan poin-poin utamanya:
Ekspansi ke Bisnis Kredit: DANA Andalkan AI untuk Mengukur Kapasitas Utang Pengguna
JAKARTA — Platform dompet digital PT Espay Debit Indonesia Koe (DANA) kian gencar memperluas jangkauan layanannya. Tak lagi sekadar menjadi aplikasi pembayaran, DANA kini memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk memperkuat portofolio keuangan lain, termasuk fasilitas pinjaman (lending), investasi, hingga asuransi.
Langkah ini dilakukan untuk membaca profil risiko dan mengukur kemampuan finansial calon peminjam secara lebih akurat.
Optimalkan Credit Scoring Lewat Kecerdasan Buatan
Chief Technology Officer (CTO) DANA Indonesia, Norman Sasono, menjelaskan bahwa integrasi AI difokuskan pada dua fungsi utama di sektor lending:
-
Credit Scoring: Menganalisis riwayat dan perilaku transaksi pengguna.
-
Credit Decision Engine: Menentukan batas atau nominal pinjaman yang layak diberikan secara otomatis.
"Kami menggunakan AI untuk credit scoring dan credit decision engine agar bisa menentukan besaran pinjaman yang tepat bagi pengguna," ujar Norman usai menghadiri DANA AI@WorkLab pada ajang IdeaFest 2026 di Jakarta.
Melalui integrasi ini, DANA berharap masyarakat mulai melihat aplikasinya sebagai ekosistem solusi keuangan yang komprehensif, bukan cuma media transaksi harian.
Tren Agentic AI dan Pentingnya Tata Kelola
Menurut Norman, tren adopsi AI di Indonesia telah bergeser dari sekadar alat tanya-jawab sederhana menjadi agentic AI. Sistem ini mampu mengeksekusi tugas-tugas operasional secara mandiri, seperti menulis kode program (coding) hingga mengelola alur proses bisnis.
Meski adopsinya kian masif, Norman mengingatkan pentingnya tata kelola dan perhitungan investasi yang matang dari pihak perusahaan. Ia menekankan beberapa poin krusial:
-
Monitoring ROI (Return on Investment): Penggunaan AI membutuhkan daya komputasi tinggi (burn token) yang berbiaya mahal. Tanpa pemantauan hasil bisnis yang jelas, AI justru bisa membengkakkan pengeluaran perusahaan tanpa memberikan dampak nyata.
-
Tanggung Jawab Manusia (Accountability): Keputusan AI tidak boleh lepas dari pengawasan manusia. Di internal DANA, diterapkan prinsip bahwa setiap sistem AI wajib berada di bawah pimpinan departemen terkait. Jika AI membuat kekeliruan dalam mengambil keputusan, penanggung jawab utamanya tetap seorang individu manusia (single individual human).
JAVATEKNO
Ryan