Investasi Robotika di Asia Tenggara Melonjak
Industri robotika di Asia Tenggara menunjukkan pertumbuhan pendanaan yang sangat pesat sepanjang 2026. Nilai investasi yang masuk ke sektor ini tercatat melonjak lebih dari 13 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh masuknya pendanaan dalam jumlah besar ke perusahaan-perusahaan robotika yang berbasis di Singapura.
Berdasarkan laporan Robotics – SEA Report yang diterbitkan Tracxn Technologies Limited pada September 2026, perusahaan robotika di Asia Tenggara secara keseluruhan telah mengumpulkan pendanaan ekuitas sebesar US$1,1 miliar atau sekitar Rp19,4 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.608 per dolar AS. Dari jumlah tersebut, pendanaan yang dihimpun sejak awal 2026 hingga saat ini mencapai US$696 juta atau sekitar Rp12,3 triliun.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat tajam jika dibandingkan dengan total pendanaan sepanjang 2025 yang hanya mencapai US$52 juta atau sekitar Rp915,6 miliar. Dengan demikian, nilai pendanaan robotika di kawasan Asia Tenggara pada 2026 telah meningkat sekitar 13,4 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pendanaan Robotika Tumbuh Fluktuatif
Perkembangan pendanaan sektor robotika di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang cukup berfluktuasi. Pada 2021, perusahaan robotika di kawasan tersebut mengumpulkan sekitar US$10,2 juta atau Rp180 miliar.
Setahun kemudian, nilainya meningkat cukup signifikan menjadi US$94 juta atau sekitar Rp1,7 triliun. Namun, tren positif tersebut tidak berlanjut pada 2023. Pendanaan turun menjadi US$19,9 juta, atau sekitar Rp350,4 miliar.
Pada 2024, nilai investasi kembali meningkat menjadi US$36,6 juta atau Rp644,5 miliar. Pertumbuhan berlanjut pada 2025 ketika total pendanaan mencapai US$52 juta. Lonjakan terbesar kemudian terjadi pada 2026, ketika nilai pendanaan year-to-date telah mencapai US$696 juta.
Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap teknologi robotika di Asia Tenggara meningkat secara signifikan. Namun, besarnya nilai investasi pada 2026 juga sangat dipengaruhi oleh adanya satu putaran pendanaan dalam skala besar di Singapura.
Singapura Menjadi Motor Pertumbuhan
Singapura menjadi negara yang paling dominan dalam ekosistem pendanaan robotika Asia Tenggara. Menurut data Tracxn, perusahaan robotika yang berbasis di Singapura menyumbang sekitar 91,7% dari total pendanaan sektor robotika di kawasan.
Secara keseluruhan, perusahaan robotika Singapura telah mengumpulkan sekitar US$986 juta atau Rp17,4 triliun melalui 58 putaran pendanaan.
Dominasi Singapura juga terlihat dari jumlah perusahaan yang dikembangkan di negara tersebut. Dari total 242 perusahaan robotika yang dilacak Tracxn di Asia Tenggara, sebanyak 108 perusahaan berada di Singapura. Dari jumlah tersebut, 37 perusahaan tercatat telah mendapatkan pendanaan.
Posisi Singapura sebagai pusat pendanaan robotika kawasan tidak hanya terlihat dari jumlah perusahaan, tetapi juga dari besarnya nilai investasi yang berhasil dihimpun sejumlah perusahaan teknologi robotika.
Sharpa Mendapat Pendanaan Terbesar
Salah satu perusahaan yang menjadi penyumbang utama lonjakan pendanaan pada 2026 adalah Sharpa. Perusahaan tersebut memperoleh pendanaan sebesar US$670 juta atau sekitar Rp11,8 triliun melalui putaran Series D pada Agustus 2026.
Nilai tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan perkembangan pendanaan robotika di kawasan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, pendanaan Sharpa seorang diri lebih tinggi daripada total pendanaan sektor robotika Asia Tenggara yang tercatat pada setiap tahun sebelum 2026.
Selain Sharpa, perusahaan robotika lain yang mencatat pendanaan besar di Singapura adalah Fourier Intelligence dan Neptune Robotics.
Fourier Intelligence tercatat telah menghimpun sekitar US$83 juta atau Rp1,5 triliun, sedangkan Neptune Robotics mengumpulkan sekitar US$69,5 juta atau Rp1,2 triliun.
Besarnya pendanaan yang diterima sejumlah perusahaan tersebut memperlihatkan bahwa Singapura memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk angka investasi robotika Asia Tenggara secara keseluruhan.
Negara ASEAN Lain Masih Tertinggal
Jika dibandingkan dengan Singapura, aktivitas investasi robotika di negara-negara Asia Tenggara lainnya masih relatif terbatas.
Di Malaysia, misalnya, sejumlah perusahaan robotika mencatat pendanaan dalam jumlah jutaan dolar. Salah satu perusahaan yang berada di Seri Kembangan memperoleh sekitar US$5 juta atau Rp88 miliar, sementara perusahaan di Johor Bahru mendapatkan sekitar US$3,7 juta atau Rp65 miliar.
Aktivitas pendanaan dengan nilai lebih kecil juga tercatat di Vietnam. Perusahaan yang berada di Chukai memperoleh sekitar US$281 ribu atau Rp4,9 miliar, sedangkan perusahaan di Tan Binh mendapatkan sekitar US$120 ribu atau Rp2,1 miliar.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pusat pendanaan robotika di kawasan masih sangat terkonsentrasi di Singapura. Negara-negara ASEAN lainnya memang mulai membangun ekosistem robotika, tetapi skala investasi yang masuk masih jauh lebih kecil.
Belum Ada Perusahaan Robotika ASEAN Berstatus Unicorn
Meskipun nilai pendanaan mengalami lonjakan besar, ekosistem robotika Asia Tenggara belum menghasilkan perusahaan yang mencapai status unicorn, yakni perusahaan rintisan dengan valuasi sedikitnya US$1 miliar.
Tracxn mencatat hingga saat ini belum ada perusahaan robotika di Asia Tenggara yang berstatus unicorn. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan investasi belum secara otomatis berarti perusahaan-perusahaan di sektor ini telah mencapai kematangan bisnis dan valuasi yang sangat tinggi.
Aktivitas exit juga masih relatif minim. Hingga September 2026, sektor robotika Asia Tenggara baru mencatat satu transaksi akuisisi dan belum memiliki perusahaan robotika yang melakukan penawaran saham perdana atau IPO.
Satu-satunya transaksi akuisisi yang tercatat adalah Zimplistic, perusahaan di balik produk Rotimatic. Sebelum diakuisisi, Zimplistic telah mengumpulkan pendanaan sekitar US$48,5 juta atau Rp854 miliar.
Pada Oktober 2020, Zimplistic diakuisisi oleh Light Ray Holdings. Namun, nilai transaksi akuisisi tersebut tidak diumumkan kepada publik.
Sebagian Besar Perusahaan Masih Berada di Tahap Awal
Data Tracxn juga memperlihatkan bahwa ekosistem robotika Asia Tenggara masih berada dalam fase pengembangan awal. Dari 242 perusahaan yang dipantau, hanya 51 perusahaan atau sekitar 21% yang telah memperoleh pendanaan institusional.
Jumlah perusahaan yang mampu melanjutkan ke tahap pendanaan lebih tinggi juga semakin sedikit. Sebanyak 22 perusahaan telah mencapai Series A atau tahap yang lebih tinggi. Kemudian, hanya sembilan perusahaan yang telah mencapai Series B atau lebih tinggi.
Untuk pendanaan Series C atau lebih tinggi, jumlahnya menyusut menjadi hanya lima perusahaan. Sementara itu, perusahaan yang berhasil mencapai Series D atau tahap di atasnya hanya berjumlah tiga perusahaan.
Data tersebut menggambarkan adanya kesenjangan antara jumlah perusahaan robotika yang bermunculan dengan jumlah perusahaan yang mampu berkembang hingga tahap pendanaan lanjutan.
Waktu Menuju Pendanaan Tahap Lanjutan
Tracxn juga mencatat bahwa perusahaan robotika di kawasan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk berkembang dari pendanaan awal menuju putaran investasi berikutnya.
Rata-rata perusahaan membutuhkan waktu sekitar 4,1 tahun sejak memperoleh pendanaan pertama untuk mencapai Series A atau tahap yang lebih tinggi. Untuk mencapai Series B atau lebih tinggi, rata-rata waktunya mencapai 5,5 tahun.
Lamanya proses tersebut mencerminkan karakteristik industri robotika yang berbeda dari sejumlah sektor teknologi digital lainnya. Pengembangan robot umumnya membutuhkan riset dan pengembangan, perangkat keras, pengujian, produksi, serta pengembangan teknologi yang memerlukan modal dan waktu.
Prospek Besar, tetapi Ekosistem Masih Berkembang
Lonjakan investasi pada 2026 menjadi indikasi meningkatnya perhatian investor terhadap teknologi robotika di Asia Tenggara. Namun, data pendanaan juga menunjukkan bahwa industri ini masih berada pada tahap awal dan belum sepenuhnya matang.
Besarnya kontribusi Singapura menjadi faktor utama di balik kenaikan pendanaan kawasan. Putaran pendanaan Sharpa yang mencapai US$670 juta bahkan menjadi faktor yang sangat signifikan terhadap lonjakan nilai investasi secara keseluruhan pada 2026.
Di sisi lain, belum adanya unicorn, minimnya transaksi akuisisi, belum adanya IPO, serta sedikitnya perusahaan yang berhasil mencapai Series C dan Series D menunjukkan bahwa perjalanan industri robotika Asia Tenggara masih panjang.
Dengan semakin berkembangnya teknologi otomatisasi, kecerdasan buatan, manufaktur pintar, dan kebutuhan terhadap tenaga kerja berbasis teknologi, sektor robotika berpotensi menjadi salah satu bagian penting dari perkembangan industri teknologi di kawasan. Namun, perkembangan tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengubah pendanaan awal menjadi produk, bisnis, dan ekspansi yang berkelanjutan.
Untuk saat ini, Singapura masih menjadi pusat utama ekosistem robotika ASEAN, baik dari sisi jumlah perusahaan maupun nilai pendanaan. Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara lainnya masih memiliki ruang yang besar untuk memperkuat ekosistem startup robotika dan menarik lebih banyak investasi ke sektor tersebut.
JAVATEKNO
Ryan